Selasa, 21 Oktober 2014

tugas character building



Nama : Lia Rahmawati
Semester VII STAI Nur El-Ghazy

Sebelum mengetahui pengertian kematangan emosi, Apakah emosi itu? Menurut Goleman (1995) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan kecenderungan untuk bertindak (Goleman, 1995;289) Emosi adalah keadaan perasaan yang banyak berpengaruh pada perilaku. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu, emosi berkaitan dengan perubahan fisiologi dan berbagai pikiran, jadi emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia (Prawitasari, 1995). Kadang kita sering menyamakan emosi dengan marah. pengertian ini tidak salah, tetapi kurang tepat, karena marah hanyalah sebagian kecil dari emosi. Sedih, senang, haru juga bagian dari emosi dan terkadang kita tidak sanggup mengendalikannya.
Chaplin (1989) mendefinisikan kematangan emosi sebagai suatu keadaan atau kondisi mencapai tingkat kedewasaan perkembangan emosional. Ditambahkan Chaplin (dalam Ratnawati, 2005), kematangan emosi adalah suatu keadaan atau kondisi untuk mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional seperti anak-anak, kematangan emosional seringkali berhubungan dengan kontrol emosi. Seseorang yang telah matang emosinya memiliki kekayaan dan keanekaragaman ekspresi emosi, ketepatan emosi dan kontrol emosi. Hal ini berarti respon-respon emosional seseorang disesuaikan dengan situasi stimulus, namun ekspresi tetap memperhatikan kesopanan sosial (Stanford, 1965).


Kematangan emosi merupakan aspek yang sangat dekat dengan kepribadian. Bentuk kepribadian inilah yang akan dibawa individu dalam kehidupan sehari-hari bagi diri dan lingkungan mereka. Seseorang dapat dikatakan telah matang emosinya apabila telah dapat berpikir secara objektif. Kematangan emosi merupakan ekspresi emosi yang bersifat kontruktif dan interaktif. Individu yang telah mencapai kematangan emosi ditandai oleh adanya kemampuan didalam mengontrol emosi, mampu berpikir realistik, memahami diri sendiri dan mampu menampakkan emosi disaat dan tempat yang tepat.
Faktor yang Mempengaruhi Kematangan Emosi
Dalam proses pencapaiannya, kematangan emosi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut ini akan dikemukakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian kematangan emosi:
a. Faktor Fisik
Dalam studi yang dilakukan oleh Davidson dan Gottlieb (dalam Powell, 1963) ternyata ditemukan adanya perbedaan tingkat perkembangan emosi maupun intelegensi antara wanita yang belum mengalami menarche (pre-menarcheal girls). Wanita yang telah mengalami masa menarche memiliki tingkat perkembangan emosi maupun inteligensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang belum mengalami masa menarche. Hal tersebut diakibatkan karena terjadinya perubahan hormonal tubuh yang dimilikinya.
Dalam studi lainnya dengan subjek yang berjenis kelamin laki-laki, Mussen dan Jones (dalam Powell, 1963) menunjukkan hasil studinya bahwa anak laki-laki yang terlambat masak secara fisik (physically retarded) ternyata menunjukkan kebutuhan akan social-acceptance dan agresivitas yang tinggi bila dibandingkan dengan anak laki-laki yang telah masak secara cepat, setelah subjek diperintahkan untuk merating dari sembilan jenis kebutuhan yang disediakan. Hal ini dikarenakan, anak laki-laki yang secara fisik terlambat masak memiliki rasa insecure dan dependence yang lebih besar.
b. Pola-pola Kontrol Terhadap Emosi
Livson dan Bronson (dalam Powell, 1963) berpendapat bahwa dalam mencapai kematangan emosi, pola-pola kontrol emosi yang ideal perlu dimiliki oleh individu, misalnya tidak melakukan represi-represi emosi yang tidak perlu dan mengendalikan emosi dengan wajar dan sesuai dengan harapan-harapan sosial.
c. Intelegensi
Faktor-faktor intelegensi berpengaruh dalam persepsi diri, self evaluation, atau penilaian (appraisal) terhadap orang lain dan situasi lingkungan. Individu dengan inteligensi tinggi, kemungkinan akan memperoleh insight dalam pemecahan masalah emosianalnya secara lebih besar.
d. Jenis Kelamin
Perbedaan hormonal maupun kondisi psikologis antara laki-laki dan wanita menyebabkan perbedaan karakteristik emosi di antara keduanya. Kahn (dalam Hasanat, 1994) menyatakan bahwa wanita mempunyai kehangatan emosionalitas, sikap hati-hati dan sensitif serta kondisi yang tinggi daripada laki-laki. Oleh karena itu, laki-laki lebih tinggi dalam hal stabilitas emosi daripada wanita.
Lone (1986) menerangkan penyebab mengapa wanita lebih bersifat emosionalitas daripada laki-laki. Hal tersebut terjadi karena wanita memiliki kondisi emosi didasarkan peran sosial yang diberikan oleh masyarakat, yaitu wanita harus mengontrol perilaku agresif dan asertifnya, tidak seperti peran sosial laki-laki. Hal ini menyebabkan wanita kurang dapat mengontrol lingkungannya, yang pada akhirnya menimbulkan kecemasan-kecemasan.
e. Usia
Kemasakan emosi seseorang, perkembangannya seiring dengan pertambahan usia. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan dan kemasakan fisik-fisiologis daripada seseorang. Sedangkan aspek fisik- fisiologis sudah dengan sendirinya ditentukan oleh faktor usia. Akan tetapi, tiap-tiap individu adalah berbeda (menurut pendekatan ideografi).
Faktor fisik-fisiologis juga belum tentu mutlak sepenuhnya mempengaruhi pekembangan kemasakan emosi, karena kemasakan emosi merupakn salah satu fenomena psikis. Tentunya determinan psikis terhadap kemasakan emosi ini beragam, baik faktor pola asuh keluarga, lingkungan sosial, pengalaman traumatik, pendidikan dan sebagainya. Jelasnya individu pada usia yang sama belum tentu mencapai tarap kemasakan emosi yang sama pula.
Kriteria Kematangan Emosi
1.      Kemampuan untuk beradapatasi dengan realitas.
Kemampuan yang berorientasi pada diri individu tanpa membentuk mekanisme pertahanan diri ketika konflik-konflik yang muncul mulai dirasakan menganggu perilakunya. Orang yang masak secara emosional melihat suatu akar permasalahan berdasarkan fakta dan kenyataan dilapangan, tidak menyalahkan orang lain atau hal-hal yang bersangkutan sebagai salah faktor penghambat. Ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan selalu dapat berpikir positif terhadap masalah yang dihadapinya
2. Kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahaan.
Perubahan mendadak kadang membuat seseorang menjadi menutup diri, menjaga jarak atau bahkan menghindari dari hal-hal yang berkisar lingkungan barunya. Kemasakan emosi menandakan bahwa seseorang dapat begitu cepat beradaptasi dengan hal-hal baru tanpa menjadikannya sebagai tekanan atau stresor. Kemampuan ini dapat tumbuh sebagai bentuk adaptasinya dengan lingkungan baru yang sengaja diciptakan untuk mengurangi stres yang dapat berkembang dalam dirinya
3. Dapat mengontrol gejala emosi yang mengarah pada kemunculan kecemasan
Munculnya kepanikan berawal dari terkumpulnya simpton-simpton yang memberikan radar akan adanya bahaya dari luar. Penumpukan kadar rasa cemas berlebihan dapat memunculkan kepanikan yang luar biasa. Orang yang mempunyai kemasakan emosi dapat mengotrol gejala-gejala tersebut sebelum muncul kecemasan pada dirinya.
4. Kemampuan untuk menemukan kedamaian jiwa dari memberi dibandingkan dengan menerima.
Semakin sehat tingkat kematangan emosi seseorang, individu tersebut dapat menangkap suatu keindahan dari memberi, ketulusan dalam membantu orang, membantu fakir miskin, keterlibatan dalam masalah sosial, keinginan unutk membantu orang lain, dan sebagainya.
5. Konsisten terhadap prinsip, janji dan keinginan untuk menolong orang yang mengalami kesulitan.
Orang yang matang secara emosi adalah orang-orang yang telah menemukan suatu prinsip yang kuat dalam hidupnya. Ia menghargai prinsip orang lain dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Ia selalu menepati janjinya dan selalu bertanggung jawab dengan apa yang telah di ucapkannya. Ia juga mempunyai keinginan untuk menolong orang lain yang mengalami kesulitan.
6. Dapat meredam instink negatif menjadi energi kreatif dan konstruktif.
Kematangan emosi yang dimiliki oleh individu akan dapat mengontrol perilaku-perilaku impulsif yang dapat merusak energi yang dimiliki oleh tubuh, individu dapat melakukan hal-hal yang bersifat positif dibandingkan memenuhi nafsu yang dapat merusak dan bersifat merusak. Ia mempunyai waktu yang lebih banyak untuk melakukan hal-hal yang lebih berguna untuk dirinya dan orang lain
7. Empati
Empati adalah kemampuan dalam membaca emosi orang lain, kemampuan merasakan perasaan orang lain, melalui keterampilan membaca pesan nonverbal, nada bicara, gerak-gerik, ekspresi wajah dan sebagainya. Kemampuan ini berkaitan dengan kesadaran emosi. Orang yang memiliki empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal social yang tersembunyi.

8. Kemampuan untuk mencintai.
Cinta merupakan energi seseorang untuk bertahan dan menjadikannya lebih bergairah dalam menjalani hidup. Tidak hanya cinta antara sesama manusia, pengalaman spiritual, mencintai Tuhan pun merupakan keindahan bagi mereka yang yang merasakan keterdekatan dengan Sang Ilahi.

Referensi
·         Hasanat, N. 1994. Apakah Perempuan lebih Depresif dari Laki-laki? Laporan Penelitian (tidak diterbitkan) Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM
Lone, P. & Shrene, A. 1986. Working Woman: A Guide to Fitness and Health. Toronto: The Mosby, Co.
·         Powell, M. 1963. The Psychology of Adolescence. New York: The Bobbs-Meril, Co.
·         Young, P. T. 1950. Emotion in Human and Animal. New York: John Willey & Son, Inc
·         Duniapsikologi.com.2012."Kematangan Emosi;Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhi". Dalam "http://www.duniapsikologi.com/kematangan-emosi-pengertian-dan-faktor-yang-mempengaruhi/"
·         Google.2012."Emosi: Kematangan Emosi". Dalam "http://enggarasyari.wordpress.com/2012/01/13/emosi-kematangan-emosi/"

1 komentar:

  1. demikian dari kami, kurang lebihnya kami mohon maaf.. masukkan dan saran kami tunggu...
    terimakasih... wassalam... :-)

    BalasHapus